Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Tentang Pilihan

 Aku memanggilnya Pak Guru. Disebut begitu sebab ia adalah guru di desaku. Setiap satu semester sekali, Desaku kerap kali kedatangan seorang guru dari kota. Namun Pak Guru bukanlah guru yang datang dari kota. Sewaktu kedatangannya ke desa, beberapa hari sebelumnya adalah kepulangan Guru Desa kami yang sebelumnya ke kota. Kepulangan yang disebabkan oleh habisnya masa mengajar di desa kami. Sedangkan untuk guru penggantinya, Kepala Desa menyebutkan kalau belum ada kabar dari kota. Pak Guru yang mengetahui hal itu pun menawarkan diri untuk menjadi guru sementara di desa kami secara sukarela. Kedatangan Pak Guru sebenarnya bukan untuk menjadi guru. Ia datang dengan tujuan tersendiri, adalah pembuatan film dokumenter. "Anggap saja sebagai balas Budi sebab para warga desa sudah menerima kedatangan saya ke sini." kata Pak Guru sewaktu ditanya alasannya untuk menjadi guru desa. Meskipun Pak Guru bilang pengambilan perannya menjadi guru di desa kami adalah sebagai balas budi, perannya...

Nada Cinta

 Nada duduk dengan dagu berpangku tangan, menatap sosok laki-laki hebat di depannya. Seorang laki-laki seumuran Nada dengan pakaian bernuansa langit cerah. Celana jeans biru dan kaos putih polos dilapisi kemeja lengan pendek berwarna biru juga. Nada memerhatikan setiap gelagat laki-laki itu dengan terus tersenyum. Sedangkan yang ditatap, sibuk memainkan jemarinya di atas kibor, matanya pun fokus menatap layar laptop. Sesekali ia tersipu malu tiap kali ia beradu tatap dengan Nada. "Berhentilah menatapku begitu. Aku jadi tidak bisa fokus menulis." kata laki-laki itu. Nada menggeleng. "Aku mau lihat Rama terus." Rama tidak lagi protes. Meskipun fokusnya sedikit terganggu, tapi tumbuh dalam diri semangat membara untuk menulis, menulis skripsi tentu saja. Keduanya kini ada di dalam sebuah kafe di dekat alun-alun kota. Rama berhenti menulis sejenak ketika seorang pelayan datang ke meja mereka dengan membawa dua gelas minuman di atas nampan. Nada pun sejenak menegakkan bad...

Layar Imaji

  Lanjutan dari "Bersama Selamanya" Kala menyebutnya Layar Imaji.  Kala dan Kila merebahkan diri di atas tikar di pekarangan rumah Kila. Keduanya terlentang menghadap langit. Kila menekuk wajahnya sebab ia merasa telah ditipu oleh Kala. Kala bilang, "Sore ini kita akan pergi menonton." katanya pagi tadi. Begitu sore tiba, Kila sudah berpakaian rapi. Ia bersemangat sekali untuk sore ini. Setelah pertengkarannya semalam dengan Kala, atau mungkin bukan bertengkar, tapi yang jelas Kila merasa jengkel tapi senang juga, tapi lebih banyak jengkelnya. Kala tiba di pintu depan. Diketuknya pintu rumah Kila yang jaraknya bahkan tidak sejauh lomba lari sprint 100 meter. Kemudian ia mengucap salam. Kala disambut oleh senyuman paling manis sahabatnya itu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kila tampil dengan selembar kaus lengan pendek yang dilapis oleh blazer lengan panjang dan memakai jins panjang. Sepatunya adalah sneakers yang dibelikan Kala tahun baru lalu. "Gimana t...

Bersama Selamanya

 Aku baru saja akan pulang ke rumah usai pentas seni kampus. Sendiri, tidak seperti biasanya. Orang yang biasa pergi bersamaku, tetiba saja enggan ikut saat aku mengajaknya tadi pagi. Pentas seni itu pun jadi tidak begitu menyenangkan. Kalau saja kemarin aku bisa menahan diri lebih lama lagi, mungkin sekarang kami masih jalan bareng. Sebelum benar sampai rumah, aku datang berkunjung ke rumah dia lebih dulu. Mencoba untuk bersikap biasa saja. Memang ini salahku, tidak seharusnya aku merusak persahabat ini hanya karena sebuah rasa cinta. Hal yang sudah diperingati olehnya agar salah satu dari kami tidak pernah jatuh cinta satu sama lain. Tapi aku malah tertangkap dan langsung hilang kendali atas tubuhku sendiri. Aku salah, aku kalah. Aku malah jatuh hati. Aku mengetuk pintu rumah itu. Aneh rasanya. Tidak biasanya aku bersikap sopan kepada rumah ini. Seringnya aku langsung masuk begitu saja tanpa permisi. Ketidaksopanan yang terwujud sebab kedekatan kami sedari kecil. Sudah aku anggap...

Blue-Wave

 Blue-Wave Sore menjelang malam. Dalam sebuah kafe pinggir jalan dekat taman, mengalun sebuah lagu. Dikumandangkan oleh seorang wanita cantik jelita di salah satu sudut kafe. Bersamaan dengan alunan gitar akustik ia berhasil menciptakan sebuah harmoni indah kala senja sedang tampil di panggung langit. Satu petikan gitar terakhir jadi tanda usainya pertunjukan indah nan mempesona itu. Selanjutnya terdengar gemuruh tepuk tangan dari para pengunjung kafe di sela mereka menyantap hidangan masing-masing atau sekadar minum kopi. Wanita itu tersenyum melihat wajah para pengunjung yang bersedia mendengar nyanyiannya. Sambil menunduk malu ia pun mengucapkan terima kasih untuk itu. Namanya Hana. Dialah pemilik suara indah itu. Adalah seorang penyanyi amatir yang kerap kali mendapat panggilan menyanyi di beberapa kafe. Bagi Hana, itu semua ia lakukan atas dasar kesenangan. Ia pun tidak pernah terpikirkan kalau seperti hari ini, dan hari-hari lain yang serupa akan ia alami, bernyanyi untuk ban...

Satuan Polisi Perundungan Pelajar

Dia adalah adikku. Namanya Dinda. Kelas 7 Sekolah Menengah Pertama sejak satu bulan lalu. Selama satu bulan itu, kulihat semuanya berjalan lancar. Dinda baik-baik saja dengan sekolah barunya. Wajah cerianya selalu ia tampilkan setiap sepulang sekolah. Ia pun gemar menceritakan kegiatan hariannya selama di sekolah padaku. Dan semua cerita yang kudapat dan kudengar darinya adalah cerita menyenangkan. Tapi tidak sampai hari ini. Pukul dua siang adalah jam pulang sekolah Dinda. Tidak seperti biasanya yang selalu ceria, hari ini Dinda pulang dengan wajah datar. "Lagi capek aja." katanya. Bukan hanya wajah cerianya yang hilang, tapi juga cerita menyenangkannya pun turut hilang. Sepulang sekolah, ia langsung masuk kamarnya dan tidak keluar kamar sampai hari hampir gelap. Biasanya dia akan menemuiku untuk bercerita selepas dia ganti seragam. Tapi tidak hari ini. Sebab tidak kunjung keluar kamar aku pun memutuskan untuk menemuinya. Menyapanya dengan riang seperti kebiasan Dinda yang j...

Jadi Seperti Ultraman

"Aku ingin jadi Ultraman." jawabku saat Bu guru menanyakan perihal cita-cita pada setiap murid di kelas. Kelas berubah hening selama satu detik setelah aku mengatakan ingin jadi apa aku nanti. Detik selanjutnya suansa kelas langsung berubah riuh. Gelak tawa teman-teman memenuhi ruang kelas dalam sekejap. Kulihat Bu guru hanya diam saja kemudian tersenyum. "Haha, jadi Ultraman katanya." Kata anak yang duduk di sudut kanan paling belakang memberi komentar. "Ultraman itu hanya ada di televisi!" Sahut yang lain. "Mudah sekali kamu dibohongi oleh acara televisi, haha." Satu orang lagi yang duduk di baris kedua sebelah kiri melemparkan komentarnya. "Dia bodoh sekali, haha." kata anak paling menyebalkan di kelas. Komentar teman-teman pedas sekali. Apalagi bagiku yang tidak suka pedas, komentar itu benar-benar menggangguku. Aku berkeringat, mataku pun mulai berair, tapi aku tahan semampuku untuk tidak menangis dalam kelas atau di sekolah. Aku m...

Randall: Escape From Human World

 Angin berhembus meniup dedaunan di pohon tinggi. Daun yang mulai menguning perlahan jatuh dan menari-nari di udara sebelum sampai menapak tanah. Beberapa daun ada yang jatuh menabrak wajah seekor reptil yang tengah panik dalam kejaran manusia. Daun itu membuatnya hilang pandangan sebentar sampai tidak sadar ada dahan pohon yang menghalangi jalan. Dia pun jatuh terperosok dan para manusia yang mengejar sudah makin dekat. Sudah tidak ada waktu lagi untuk melarikan diri. Tubuhnya gemetar hebat dan keringat dingin mengucur deras dari ujung kepala. Para manusia sudah mengacungkan tombaknya. Ujung tombak sudah hampir dekat sampai moncong si reptil. Namun suara geraman amat kencang membuat mereka menariknya kembali. Semak-semak sebelah kanan tampak bergoyang yang disusul oleh kemunculan makhluk besar setinggi tiga meter dan mengaum tepat ke depan wajah para manusia seolah melindungi si reptil. Takut bukan main, para manusia langsung lari terbirit-birit tak tentu arah bak orang mabuk. Mer...

Jemput Pulang

 Aku mulai melajukan mobilku saat lampu lalu lintas sudah berubah hijau kembali. Hari ini adalah hari aku akan diwisuda setelah berjuang empat tahun berkuliah. Acara wisuda akan dilaksanakan siang ini di Aula kampus. Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Tapi sebelum itu, aku akan mampir sebentar ke kantor polisi untuk menjemput seorang sahabat di sana. Dia bukanlah seorang polisi atau seseorang yang bekerja di sana. Tapi dia tinggal di sana. Dulu, dia pernah diringkus polisi di sebuah rumah mewah yang ditinggal penghuninya bepergian. Ia pun ditangkap dan sebab itulah ia harus mendekam di dalam penjara selama satu tahun. Namanya Jaka Haris, sahabat dan juga teman sekelasku di kampus. Aku berani bersumpah, Jaka bukanlah seorang penjahat. Keinginannya untuk menolong orang lain adalah alasan yang menjadikannya berlaku demikian. Orang lain itu adalah seorang anak jalanan yang sudah menyelamatkan hidup Jaka. Saat Jaka dilanda keputusasaan dan ingin menyerah pada kehidupan, serta aku yang...