Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Tidak Pandai Menabung

Dalam tabung logam yang disebut celengan Lembaran kertas dilipat sampai pegal Juga koin dalam banyak potongan Yang datang bukan untuk tinggal Hari baru datang pula lembaran baru Hampir setiap hari terus berlaku Punya tuju untuk belanja buku Ketika semua sudah kumpul jadi satu Tapi itu hanyalah yang dimau Kekuatannya kalah jauh dengan yang dibutuh Sialnya aku malah kalah bertaruh Yang sempat tinggal kini sudah hilang Yang sudah berkumpul kini kembali bercerai Sejenak melupa apa yang dibutuh Sebentar beralih pada yang dimau Belanja buku, baju, semuanya abu-abu Ambil satu, tambah satu, sampai seribu Apa boleh begitu?

Aku Belum Siap Jadi Dewasa - Puisi

Sampai delapan belas tahun hidup di dunia Tertahan di ambang pintu bertuliskan dewasa Knop pintu membeku merindu disentuh Kaki gemetar, dada berdegup kencang Bermaksud maju mengikuti arus Tapi malah terjerat oleh jaring nelayan Dibawa pergi jauh keluar jalur hidup  Lupa jalan pulang, dikata kabur dari kenyataan Harus pandai dalam membedakan Mesti cermat dalam pihah-pilih Harus bijak dalam menentukan Mesti kuat dalam emosi tertahan Dewasa tanda mampu kuasai diri Dipaksa menurut pada banyak penuntut Katanya harus begini, katanya harus begitu Kamu tidak boleh gini, tidak boleh lakukan itu Aku takut Dewasa punya kata 'dewa' di depan wajahnya Sedangkan aku hanya seorang manusia saja Aku berhasil ditemukan, kemudian dibawa pulang Kembali ke dalam arus, kembali terjatuh sampai diujung air terjun

Huruf Pertamanya Adalah Namamu

Kalau saja kita tidak pernah dekat Atau temu itu tidak ada terjadi Mungkin sekarang aku masih yang dulu Isyarat bagai patung batu hidup Lahir tanpa pernah diukir Angkuh berdiri tanpa melihat diri Zaman kecil cinta di bawah atap sekolah Atau malah ditimpa langit dunia maya Halusinasi tumbuh dalam banyak kata Rangkaian suara tanpa bunyi satu harmoni Aku keluar Satu huruf dibalas tanda tanya Awan di langit belum juga turun Laut masih jadi rumah ikan-ikan Sungai meluncur jatuh dari air terjun Anggun melebur turun hingga pipi Belum waktunya saja untuk berjalan Indah gelap di bawah purnama Lawan terang lentera dalam pawai Aku menyerah 25-08-2021

Sekolah Dulu Aja

Menatap papan tulis putih yang sudah tidak lagi putih. Pergi du duk di atas kursi di balik meja jati. Tas punggung digantung di belakang bangku. Fokus perhatian ke arah seseorang yang disebut guru. Tapi, itu dulu :( Hari ini..., papan tulis putih tidak selalu ada. Kursi dan meja hanya untuk mereka yang punya. Tidak usah pakai tas pun tidak masalah. Dulu aku mandi, sekarang? Masih mandi, tapi tidak pagi :) Dulu, belajar menghadap papan. Sekarang, semua menatap layar. Dulu, seragam adalah kewajiban, sekarang tidak apa kalau ingin beragam. Dulu, duduk adalah sebuah keharusan, sekarang rebahan sudah jadi kebiasaan. Dulu, sekolah amat penuh dengan aturan, sekarang? Aturan rumah ditegakkan, sekolah ikut mengambil peran :( BEBAN!

Soal Matematika

Tiap kali berkutat dengan angka dan data. Soal tambah, kurang, kali, bagi. Tentang pangkat, akar, dan logaritma. Seketika, kerja otak berhenti, tak berfungsi. Belum lagi, ada kombinasi dan permutasi. Turunan untuk turun, di integral naik lagi. Katanya, limit adalah batasan. Rupanya, ada yang tidak memiliki batasan. Dan soal polinomial, itu adalah suku banyak. Tapi tidak ada suku sunda maupun jawa di sana. Jadi tidak usah dicari. Waktu belajar, terlihat begitu mudah. Sekali, dua kali lihat langsung jawab. Waktu tugas datang diberikan, putar otak ratusan hingga ribuan kali adalah keperluan. Waktu ulangan? Sudah jangan ditanya. Otak kanan adalah senjata andalan. Sebab otak kiri sudah mati, berhenti, tak berfungsi.

Sekolah dan Pohon Kelapa

Akan kuberi tahu sebuah berita fenomenal. Sesuatu dengan rupa beda namun kembar fungsi. Yang satu adalah sistem dalam bangunan. Lainnya adalah makhluk hidup mandiri di tepi pantai Sekolah dan pohon kelapa, memberi banyak manfaat untuk semua orang. Setiap bagiannya berguna bagi kehidupan. Punya tujuan untuk membuat pintar. Satunya datang untuk menyegarkan. Namun, keduanya merupakan penyebab kehilangan. Beberapa nyawa hilang kejatuhan kelapa setiap tahunnya. Beberapa mimpi hilang sebab tuntutan dan aturan pendidikan.

Pelana Pengetahuan

Sebut saja tempat itu Pelana Pengetahuan. Tempat orang belajar mencapai tujuan. Dari orang kecil sampai hampir besar. Ditunggangi pelana itu dengan sangat sabar. Dihuni oleh para pendidik dan yang dididik. Berisi tukang hardik dan yang dihardik. Tempat para pelantik dan yang dilantik. Ruang para perempuan cantik dan yang hampir cantik. Namanya Pelana Pengetahuan. Perlu tempat berpijak untuk memulai. Dipegang oleh negara namanya negeri. Kalau berdiri sendiri bukan berarti luar negeri. Tapi swasta. – Ruang Tahul