Langsung ke konten utama

Postingan

Bertaruh

 Aku pernah jatuh cinta. Pelakunya adalah orang yang datang di tahun terakhir sekolah menengah pertama. Kalau cinta adalah tumbuhan, dan hati adalah tanah, maka dunia maya adalah potnya. Dunia maya saksi sapa pertama, dialog pertama, dan ucapan mesra pertama dan paling utama adanya kalimat cinta, (Kalau dunia nyata medianya adalah kertas. Lewat puisi yang ditulis untuk persembahan hadiah ulang tahun, beserta komik pertama yang dicipta dengan mengambil cerita yang pernah ia berikan padaku. Bahkan sampai saat ini pun aku masih menyimpannya, maksudku beberapa minggu lalu aku baru menemukannya lagi. Sebelumnya bukan hilang, hanya lupa menyimpan). Sudah kubilang itu adalah tahun terakhir. Jadi, setelahnya adalah fase baru dalam dunia sekolah. Dan sialnya kami berada di bawah atap sekolah yang berbeda. Hal itu rupanya terus belanjut sampai bangku kuliah. Jadi sebelum sampai dunia kampus, aku sudah putuskan untuk menutus komunikasi tidak penting. Lagipula cintanya masih belum jelas akan...

Jadi Seperti Ultraman

"Aku ingin jadi Ultraman." jawabku saat Bu guru menanyakan perihal cita-cita pada setiap murid di kelas. Kelas berubah hening selama satu detik setelah aku mengatakan ingin jadi apa aku nanti. Detik selanjutnya suansa kelas langsung berubah riuh. Gelak tawa teman-teman memenuhi ruang kelas dalam sekejap. Kulihat Bu guru hanya diam saja kemudian tersenyum. "Haha, jadi Ultraman katanya." Kata anak yang duduk di sudut kanan paling belakang memberi komentar. "Ultraman itu hanya ada di televisi!" Sahut yang lain. "Mudah sekali kamu dibohongi oleh acara televisi, haha." Satu orang lagi yang duduk di baris kedua sebelah kiri melemparkan komentarnya. "Dia bodoh sekali, haha." kata anak paling menyebalkan di kelas. Komentar teman-teman pedas sekali. Apalagi bagiku yang tidak suka pedas, komentar itu benar-benar menggangguku. Aku berkeringat, mataku pun mulai berair, tapi aku tahan semampuku untuk tidak menangis dalam kelas atau di sekolah. Aku m...

Nakhoda Bulan

Aku sedang bicara soal bulan. Yang paling terang di tengah kegelapan. Aku jatuh cinta pada sabitnya bulan. Yang cahayanya buat aku jatuh dalam nyaman. Ibaratkan bulan adalah sebuah perahu. Maka akulah yang jadi nakhodanya. Langit adalah lautan yang siap diarungi. Dan bintang-bintang berperan sebagi ikan-ikan. Semoga saja tidak ada awan malam ini. Biar langit bisa tampil dengan tenang. Sebab awan ibarat ombak nan gelombang. Awan besar bisa membuat ikan-ikan sembunyi ketakutan. Juga soal diriku dan bulan, yang bisa saja dibuat hilang. Akulah seorang nakhoda bulan.

Randall: Escape From Human World

 Angin berhembus meniup dedaunan di pohon tinggi. Daun yang mulai menguning perlahan jatuh dan menari-nari di udara sebelum sampai menapak tanah. Beberapa daun ada yang jatuh menabrak wajah seekor reptil yang tengah panik dalam kejaran manusia. Daun itu membuatnya hilang pandangan sebentar sampai tidak sadar ada dahan pohon yang menghalangi jalan. Dia pun jatuh terperosok dan para manusia yang mengejar sudah makin dekat. Sudah tidak ada waktu lagi untuk melarikan diri. Tubuhnya gemetar hebat dan keringat dingin mengucur deras dari ujung kepala. Para manusia sudah mengacungkan tombaknya. Ujung tombak sudah hampir dekat sampai moncong si reptil. Namun suara geraman amat kencang membuat mereka menariknya kembali. Semak-semak sebelah kanan tampak bergoyang yang disusul oleh kemunculan makhluk besar setinggi tiga meter dan mengaum tepat ke depan wajah para manusia seolah melindungi si reptil. Takut bukan main, para manusia langsung lari terbirit-birit tak tentu arah bak orang mabuk. Mer...

Tidak Pandai Menabung

Dalam tabung logam yang disebut celengan Lembaran kertas dilipat sampai pegal Juga koin dalam banyak potongan Yang datang bukan untuk tinggal Hari baru datang pula lembaran baru Hampir setiap hari terus berlaku Punya tuju untuk belanja buku Ketika semua sudah kumpul jadi satu Tapi itu hanyalah yang dimau Kekuatannya kalah jauh dengan yang dibutuh Sialnya aku malah kalah bertaruh Yang sempat tinggal kini sudah hilang Yang sudah berkumpul kini kembali bercerai Sejenak melupa apa yang dibutuh Sebentar beralih pada yang dimau Belanja buku, baju, semuanya abu-abu Ambil satu, tambah satu, sampai seribu Apa boleh begitu?

Sekarang Giliranku

"Akhirnya selesai juga." Aku rebahkan diriku di atas lantai sambil melemaskan otot dan persendian yang terasa pegal. Tiga buah buku yang sudah terbungkus rapi dalam kertas kado yang sengaja kubalik agar warna putih di baliknya yang jadi sorotan. Ketiganya tertumpuk rapih di samping sebelah kanan badan. Setelah segala pegal berangsur menghilang aku pun bangkit kembali dan kuambil ponsel di atas meja. Berselancar di media sosial untuk mencari tiga nama dan kemudian kukirim pesan pada mereka. "Apa alamat rumahmu? Aku ingin mengirim paket." kataku pada mereka di masing-masing kolom pesannya setelah saling sapa dan bertukar kabar sebelumnya. "Paket apa?" "Kamu akan tau saat paketnya datang. Aku akan kirim hari ini pakai ojek online." Tentu ketiganya tidak langsung membalas saat itu juga. Tapi ketika alamatnya sudah kudapat, paket buku yang sudah kubungkus rapi sedari pagi itu langsung aku luncurkan ke depan rumahnya diwakili tukang ojek online. Isinya...

Karenamu

Sudah sejak dua bulan lalu aku disibukkan dengan prosedur penerbitan. Tepatnya saat email pengajuan naskahku disetujui oleh penerbit. Ini adalah buku pertamaku, tapi siapa sangka pra-pemesanannya sudah terjual habis dalam waktu dua hari saja. Dampaknya, saat buku rampung tercetak tanganku dibuat pegal sebab menandatangani semua halaman depan bukunya, dan juga dengan segala bentuk promosi lainnya. Dampak lainnya setelah dua bulan buku pertamaku disebar ke seluruh Indonesia, lusa nanti akan ada acara peluncuran buku pertama oleh penerbit di toko buku terdekat. Aku akan tampil di sana sebagai seseorang yang namanya tertulis di halaman depan buku itu dan bertugas menjelaskan sekaligus bercerita perihal isi dan cerita dibaliknya. Dalam diri aku tidak bisa berbohong jika aku tidak senang. Aku tidak pernah menyangka hal sebesar ini akan menimpa seorang kurus kecil sepertiku. Apalagi aku akan berbicara di depan orang banyak setelah terakhir kali aku melakukannya adalah sewaktu di bangku sekola...