Langsung ke konten utama

Makhluk Hidup Berakal

 Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup berakal di Bumi. Sayangnya, akal mereka seringkali dipakai untuk memenuhi kepentingan pribadi dan menentang aturan yang tidak sejalan dengan jalan pikirannya--sekalipun aturan itu benar dan jalan pikirannya lah yang keliru.

Manusia juga seringkali menentang aturan alam--khususnya belakangan ini. Aturan alam yang sudah berlaku lebih dari ribuan tahun lamanya, bisa dipandang buruk oleh beberapa manusia. Belum lagi, akal seringkali melibatkan perasaan sebagai objek adu dombanya.

Ketimbang menentang, seharusnya akal bisa dipakai untuk mencari tau apa yang memang belum diketahui. Tentu ada alasan mengapa aturan alam bisa bertahan dan tetap berlaku selama ribuan tahun. Alasan itulah yang seharusnya dicari tau oleh akal. Sayangnya, akal seringkali disalahgunakan, menentang aturan alam untuk mendukung kepentingan pribadi. Yang paling menyeramkan adalah, ketika pola pikir yang keliru itu justru mengajak lebih banyak orang--yang berakal juga--untuk mendukung pola pikirnya--yang keliru. 

Mereka seolah membuat kelabu di antara hitam dan putih. Memutarbalikkan apa yang di atas menjadi di bawah, apa yang di depan menjadi di belakang, apa yang seharusnya baik jadi buruk di mata mereka, dan yang seharusnya buruk justru dipandang baik oleh mereka. Lagi-lagi perasaan seringkali dijadikan objek adu domba.

Mereka akan berlindung di balik topeng bernama, "logika." Lupa kalau logika adalah ranah kelabu yang belum terbukti hitam dan putihnya tanpa data yang valid dan fakta yang aktual.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggugat Freud Lewat Bahasa: Sebuah Kritik Terhadap Kesalahan Istilah Ego

  (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Dalam sejarah psikologi modern, psikoanalisis menjadi salah satu teori paling berpengaruh, terutama melalui kontribusi Sigmund Freud. Salah satu konsep kunci dalam teorinya adalah pembagian struktur kepribadian menjadi tiga bagian: id, ego, dan superego. Namun, seiring berkembangnya pemahaman lintas bahasa dan budaya, muncul pertanyaan kritis: apakah istilah "ego" dalam kerangka Freud benar secara semantik dan konseptual? Dalam berbagai bahasa dan pemahaman masyarakat, "ego" identik dengan keangkuhan, dorongan diri yang tak terkendali, dan sifat egois. Sementara itu, Freud menggunakan istilah ini untuk menggambarkan fungsi pengatur dan penengah antara dorongan naluriah dan tuntutan sosial. Esai ini hendak menggugat pilihan istilah "ego" dalam teor...

Kebebasan dan Batasan: Dialektika Etika dalam Masyarakat Modern Abstrak 

 . (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) ____ Esai ini membahas dialektika antara kebebasan dan batasan dalam masyarakat modern, dengan fokus pada bagaimana kebebasan yang awalnya dimaknai sebagai kemajuan, dapat berubah menjadi bentuk kebebasan yang liar jika tidak diimbangi dengan etika dan tanggung jawab. Fenomena yang dianalisis meliputi cara berpakaian, kebebasan berpendapat, serta perdebatan kesetaraan gender. Tulisan ini mengusulkan kerangka etis yang mempertahankan kebebasan namun tetap memelihara nilai protektif dari batasan sosial. Pendahuluan   Kebebasan sering dipandang sebagai salah satu pilar utama peradaban modern. Individu diberi ruang yang luas untuk mengekspresikan identitas, opini, dan pilihan hidupnya. Namun, kebebasan yang dilepaskan dari konteks etis dan sosial dapat kehilangan arah, melahirkan pa...

Behavioristik dan Kolaborasi Ilmu: Menyatukan Pemahaman demi Keutuhan Psikologi

  (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Pendekatan behavioristik dalam psikologi kerap dianggap sempit karena fokusnya hanya pada perilaku yang tampak dan terukur. Namun sesungguhnya, jika dimaknai dengan lebih reflektif, behaviorisme dapat berkontribusi besar dalam memahami perilaku manusia. Bukan dengan mengklaim sebagai pendekatan paling lengkap, tetapi justru dengan mengakui batasnya dan membuka ruang kerja sama lintas bidang ilmu. Esai ini membahas bagaimana behavioristik, alih-alih hanya membentuk perilaku, bisa digunakan untuk memahami perilaku secara fungsional, dan bagaimana pentingnya kerja sama antardisiplin dalam menjelaskan kompleksitas manusia. Behaviorisme: Dari Membentuk ke Memahami Secara historis, behaviorisme berkembang dari semangat ilmiah untuk menjadikan psikologi sebagai ilmu objektif. Tok...