Langsung ke konten utama

Aku adalah Seekor Burung Kecil yang Tumbuh Di Tengah Lautan

 Aku bagai seekor burung kecil yang tumbuh di tengah lautan, diasuh para ikan, dan diajar untuk berenang dan menyelam. Sampai satu waktu, aku dibiarkan untuk terbang. Melihat langit dan bermain dengan para awan dan burung-burung lain. Aku menyebutnya kebebasan.

Seolah waktu bebasku telah habis--udara tercemar, pandangan terhalang, napas susah tak keruan, aku jadi terpaksa menyentuh air lagi. Berenang dengan para ikan dan menyelam di kedalaman.

Sekian waktu aku mampu bertahan, lambat-laun aku merasa tidak nyaman. Aku pikir tempatku bukan di sini. Aku ingin bebas. Aku ingin terbang lagi menggapai langit.

Tapi pikiranku yang lain mengatakan, aku adalah burung bodoh dan merugi sebab berusaha menghindari air, sedangkan air adalah sumber kehidupan. Aku pun jadi bimbang. Tidak bisakah aku memilih terbang namun tetap menyentuh air tanpa harus basah sepenuhnya?

Semakin lama aku berenang, semakin besar pula peluangku untuk mati tenggelam. Tidak ada yang tau bagaimana aku susah payah kembali ke permukaan untuk mengambil napas baru bisa berenang lagi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.

Aku punya sayap, tapi tidak ada guna selama aku tetap dalam air. Para ikan bilang sebenarnya aku sedang terbang di lautan. Lantas mengapa aku tidak boleh berenang di angkasa?

Katanya di atas sana ada burung yang makan ikan. Apakah aku harus memakan keluargaku sendiri untuk kemudian bisa bebas?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggugat Freud Lewat Bahasa: Sebuah Kritik Terhadap Kesalahan Istilah Ego

  (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Dalam sejarah psikologi modern, psikoanalisis menjadi salah satu teori paling berpengaruh, terutama melalui kontribusi Sigmund Freud. Salah satu konsep kunci dalam teorinya adalah pembagian struktur kepribadian menjadi tiga bagian: id, ego, dan superego. Namun, seiring berkembangnya pemahaman lintas bahasa dan budaya, muncul pertanyaan kritis: apakah istilah "ego" dalam kerangka Freud benar secara semantik dan konseptual? Dalam berbagai bahasa dan pemahaman masyarakat, "ego" identik dengan keangkuhan, dorongan diri yang tak terkendali, dan sifat egois. Sementara itu, Freud menggunakan istilah ini untuk menggambarkan fungsi pengatur dan penengah antara dorongan naluriah dan tuntutan sosial. Esai ini hendak menggugat pilihan istilah "ego" dalam teor...

Menimbang Kebebasan dalam Bingkai Kemanusiaan dan Etika Islami

 (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk menbagikan apa yang ada dalam kepala, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Kebebasan telah menjadi salah satu isu sentral dalam wacana sosial modern. Ia seringkali diartikan sebagai hak untuk melakukan apa pun tanpa batas, selama tidak secara eksplisit melanggar hukum. Namun, ketika konsep kebebasan tidak dibarengi dengan rasa aman dan tanggung jawab, kebebasan itu sendiri justru berpotensi mencederai individu dan masyarakat. Dalam konteks ini, pandangan Islam tentang kebebasan bukan hanya menawarkan batasan, tetapi juga perlindungan, baik bagi individu maupun komunitas secara luas. Kebebasan sejati, dalam pandangan yang diuraikan esai ini, adalah kebebasan yang menjunjung tinggi kemanusiaan, menghormati sesama, dan dituntun oleh nilai-nilai moral dan etika. Kebebasan dan Rasa Aman: Sebuah Keterkaitan yang Tak Terpisahkan Kebebasan sejati adalah ketika seseorang merasa aman dalam...

Kebebasan dan Batasan: Dialektika Etika dalam Masyarakat Modern Abstrak 

 . (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) ____ Esai ini membahas dialektika antara kebebasan dan batasan dalam masyarakat modern, dengan fokus pada bagaimana kebebasan yang awalnya dimaknai sebagai kemajuan, dapat berubah menjadi bentuk kebebasan yang liar jika tidak diimbangi dengan etika dan tanggung jawab. Fenomena yang dianalisis meliputi cara berpakaian, kebebasan berpendapat, serta perdebatan kesetaraan gender. Tulisan ini mengusulkan kerangka etis yang mempertahankan kebebasan namun tetap memelihara nilai protektif dari batasan sosial. Pendahuluan   Kebebasan sering dipandang sebagai salah satu pilar utama peradaban modern. Individu diberi ruang yang luas untuk mengekspresikan identitas, opini, dan pilihan hidupnya. Namun, kebebasan yang dilepaskan dari konteks etis dan sosial dapat kehilangan arah, melahirkan pa...