Langsung ke konten utama

Dear Diary: Blog

 Pertama kali aku membuat blog adalah sekitar Maret 2021, tapi aku baru mulai menulis blog di Blogspot di akhir tahun 2022. Sebelumnya aku cukup aktif menulis di Wattpad, bahkan bisa menyelesaikan tiga tulisan (novel, antologi puisi, dan kumpulan cerpen). Sampai akhirnya aku pindah ke blog.

Setelah lama menulis hampir 2 tahun, aku baru saja mengajukan monetisasi blog, kemarin. Alasannya adalah sebab pada awalnya aku hanya ingin sekadar menulis. Belum terpikir ke arah sana. Pernah aku memikirkannya setahun lalu, tapi aku tidak melakukannya. Bingung perihal transfer uang. Aku bukan pengguna uang digital. Tidak pernah belanja online. Rekening pribadi pun tidak punya. Jadi aku baru mau memulainya kemarin. 

Membuat blog tanpa pengetahuan menulis. Disebutkan dapat dibuat dengan menggunakan AI, chatGPT. Atau dengan melakukan salin koreksi, mengganti susunan kalimat agar terhindar dari plagiarisme. Itu pun dapat dibuat tanpa harus koreksi manual, bisa dengan alat di internet, AI lagi.

Aku pun cukup terkejut dan baru mengetahui semua hal itu kemarin, saat sedang mencari tau tutorial monetisasi blog.

Aku tau blog memang sudah tertinggal, atau mungkin bukan blog itu sendiri yang tertinggal, tapi blog yang aku kenal. Blog yang berisi cerita-cerita dan curahan hati penulisnya.

Aku yang terlambat dan tertinggal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggugat Freud Lewat Bahasa: Sebuah Kritik Terhadap Kesalahan Istilah Ego

  (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Dalam sejarah psikologi modern, psikoanalisis menjadi salah satu teori paling berpengaruh, terutama melalui kontribusi Sigmund Freud. Salah satu konsep kunci dalam teorinya adalah pembagian struktur kepribadian menjadi tiga bagian: id, ego, dan superego. Namun, seiring berkembangnya pemahaman lintas bahasa dan budaya, muncul pertanyaan kritis: apakah istilah "ego" dalam kerangka Freud benar secara semantik dan konseptual? Dalam berbagai bahasa dan pemahaman masyarakat, "ego" identik dengan keangkuhan, dorongan diri yang tak terkendali, dan sifat egois. Sementara itu, Freud menggunakan istilah ini untuk menggambarkan fungsi pengatur dan penengah antara dorongan naluriah dan tuntutan sosial. Esai ini hendak menggugat pilihan istilah "ego" dalam teor...

Kebebasan dan Batasan: Dialektika Etika dalam Masyarakat Modern Abstrak 

 . (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) ____ Esai ini membahas dialektika antara kebebasan dan batasan dalam masyarakat modern, dengan fokus pada bagaimana kebebasan yang awalnya dimaknai sebagai kemajuan, dapat berubah menjadi bentuk kebebasan yang liar jika tidak diimbangi dengan etika dan tanggung jawab. Fenomena yang dianalisis meliputi cara berpakaian, kebebasan berpendapat, serta perdebatan kesetaraan gender. Tulisan ini mengusulkan kerangka etis yang mempertahankan kebebasan namun tetap memelihara nilai protektif dari batasan sosial. Pendahuluan   Kebebasan sering dipandang sebagai salah satu pilar utama peradaban modern. Individu diberi ruang yang luas untuk mengekspresikan identitas, opini, dan pilihan hidupnya. Namun, kebebasan yang dilepaskan dari konteks etis dan sosial dapat kehilangan arah, melahirkan pa...

Behavioristik dan Kolaborasi Ilmu: Menyatukan Pemahaman demi Keutuhan Psikologi

  (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Pendekatan behavioristik dalam psikologi kerap dianggap sempit karena fokusnya hanya pada perilaku yang tampak dan terukur. Namun sesungguhnya, jika dimaknai dengan lebih reflektif, behaviorisme dapat berkontribusi besar dalam memahami perilaku manusia. Bukan dengan mengklaim sebagai pendekatan paling lengkap, tetapi justru dengan mengakui batasnya dan membuka ruang kerja sama lintas bidang ilmu. Esai ini membahas bagaimana behavioristik, alih-alih hanya membentuk perilaku, bisa digunakan untuk memahami perilaku secara fungsional, dan bagaimana pentingnya kerja sama antardisiplin dalam menjelaskan kompleksitas manusia. Behaviorisme: Dari Membentuk ke Memahami Secara historis, behaviorisme berkembang dari semangat ilmiah untuk menjadikan psikologi sebagai ilmu objektif. Tok...