Langsung ke konten utama

Dear Diary: Blog

 Pertama kali aku membuat blog adalah sekitar Maret 2021, tapi aku baru mulai menulis blog di Blogspot di akhir tahun 2022. Sebelumnya aku cukup aktif menulis di Wattpad, bahkan bisa menyelesaikan tiga tulisan (novel, antologi puisi, dan kumpulan cerpen). Sampai akhirnya aku pindah ke blog.

Setelah lama menulis hampir 2 tahun, aku baru saja mengajukan monetisasi blog, kemarin. Alasannya adalah sebab pada awalnya aku hanya ingin sekadar menulis. Belum terpikir ke arah sana. Pernah aku memikirkannya setahun lalu, tapi aku tidak melakukannya. Bingung perihal transfer uang. Aku bukan pengguna uang digital. Tidak pernah belanja online. Rekening pribadi pun tidak punya. Jadi aku baru mau memulainya kemarin. 

Membuat blog tanpa pengetahuan menulis. Disebutkan dapat dibuat dengan menggunakan AI, chatGPT. Atau dengan melakukan salin koreksi, mengganti susunan kalimat agar terhindar dari plagiarisme. Itu pun dapat dibuat tanpa harus koreksi manual, bisa dengan alat di internet, AI lagi.

Aku pun cukup terkejut dan baru mengetahui semua hal itu kemarin, saat sedang mencari tau tutorial monetisasi blog.

Aku tau blog memang sudah tertinggal, atau mungkin bukan blog itu sendiri yang tertinggal, tapi blog yang aku kenal. Blog yang berisi cerita-cerita dan curahan hati penulisnya.

Aku yang terlambat dan tertinggal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebebasan dan Batasan: Dialektika Etika dalam Masyarakat Modern Abstrak 

 . (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) ____ Esai ini membahas dialektika antara kebebasan dan batasan dalam masyarakat modern, dengan fokus pada bagaimana kebebasan yang awalnya dimaknai sebagai kemajuan, dapat berubah menjadi bentuk kebebasan yang liar jika tidak diimbangi dengan etika dan tanggung jawab. Fenomena yang dianalisis meliputi cara berpakaian, kebebasan berpendapat, serta perdebatan kesetaraan gender. Tulisan ini mengusulkan kerangka etis yang mempertahankan kebebasan namun tetap memelihara nilai protektif dari batasan sosial. Pendahuluan   Kebebasan sering dipandang sebagai salah satu pilar utama peradaban modern. Individu diberi ruang yang luas untuk mengekspresikan identitas, opini, dan pilihan hidupnya. Namun, kebebasan yang dilepaskan dari konteks etis dan sosial dapat kehilangan arah, melahirkan pa...

Dear Diary: Love Language

 Beberapa hari lalu, aku iseng melakukan love language test. Berikut adalah hasilnya: Pertanyaannya adalah, "Apa yang lebih berarti bagiku ketika...?" Receiving Gifts: atau menerima hadiah. Poin ini sedikit lebih unggul dibanding yang lain. Dalam penjelasan di web-nya pun dijelaskan kalau poin ini mungkin terdengar materialis, tapi dalam bahasa cinta, bukan materi yang dilihat. Melainkan pesan di baliknya. Dan aku mengharapkan adanya pesan itu. Iya, aku berharap. Aku tidak tau bagaimana love language bekerja. Tapi hasil ini sebagian besar memang berarti harapan. Aku jarang menerima hadiah. Ulang tahun pun tidak pernah dirayakan. Kalau pun ada yang merayakan, itu adalah inisiatif orang-orang di sekitarku saat itu. Dan saat itu terjadi, aku merasa kalau itu adalah salah satu momen berharga dalam hidup. Perihal hadiah, bukan berarti aku tidak pernah mendapatkannya sama sekali. Aku pernah mendapatkannya. Walau mungkin sebutannya bukan hadiah, tapi pemberian. Bagiku, apapun sebut...

Review Buku: Getting To Yes

 Resensi buku non-fiksi: Getting To Yes Identitas Buku:  Getting To Yes: Trik Mencapai Kata Sepakat untuk Setiap Perbedaan Pendapat Oleh Roger Fisher, William Ury, dan Bruce Patton Penerjemah: Mila Hidajat Penerbit Gramedia Pustaka Utama Cetakan kelima (edisi ketiga): Maret 2020 Jumlah Halaman: 314 Pendahuluan: Secara umum, Getting To Yes menawarkan sebuah metode negosiasi yang dikenal sebagai Negosiasi Berprinsip. Seringkali perbedaan pendapat menjadikan dua pihak ingin saling mengalahkan satu sama lain, hanya berfokus pada apa yang mau dan tidak mau dilakukan oleh masing-masing pihak. Dengan Negosiasi Berprinsip perbedaan pendapat diharapkan dapat diselesaikan dengan kesepakatan yang menekankan pada keuntungan bersama bila memungkinkan, dan ketika kepentingan kedua pihak bertentangan, maka harus didasarkan pada standar yang adil dan terbebas dari keinginan masing-masing. Para penulis merupakan mereka yang tergabung dalam Harvard Negotiation Project sekaligus menjadi tempat d...