Awan yang jadi sutradara. Langit menawarkan diri jadi panggungnya. Titik-titik air yang turun dari langit siap jadi tokoh utama. Angin pun turut bermain. Petir datang untuk menambah keramaian. Bersama guruh dan kilat pertunjukan hujan jadi tampil lebih menakjubkan lagi. Sampai akhir pertunjukan, awan menarik diri dari panggung langit. Dilihat cahaya melengkung warna-warna jadi kejutan terakhir yang disiapkan.
Tokoh paling nakal dalam pertunjukan sudah mencuri pandang dan terus mengintip dari balik awan. Petir, kilat, dan guruh, sudah menghilang. Hujan perlahan mulai mereda. Matahari, si tokoh paling nakal itu, sudah siap beraksi lagi. Dan Pelangi adalah hadiah yang diberikan para pengisi acara pertunjukan sebagai ucapan terima kasih. Para penonton pun berseri-seri di bawah payungnya masing-masing, ada yang terperangah, tapi tampak jelas di wajah mereka senyum melengkung paling indah yang selaras dengan lengkungan pelangi.
Beberapa hari lalu, aku iseng melakukan love language test. Berikut adalah hasilnya: Pertanyaannya adalah, "Apa yang lebih berarti bagiku ketika...?" Receiving Gifts: atau menerima hadiah. Poin ini sedikit lebih unggul dibanding yang lain. Dalam penjelasan di web-nya pun dijelaskan kalau poin ini mungkin terdengar materialis, tapi dalam bahasa cinta, bukan materi yang dilihat. Melainkan pesan di baliknya. Dan aku mengharapkan adanya pesan itu. Iya, aku berharap. Aku tidak tau bagaimana love language bekerja. Tapi hasil ini sebagian besar memang berarti harapan. Aku jarang menerima hadiah. Ulang tahun pun tidak pernah dirayakan. Kalau pun ada yang merayakan, itu adalah inisiatif orang-orang di sekitarku saat itu. Dan saat itu terjadi, aku merasa kalau itu adalah salah satu momen berharga dalam hidup. Perihal hadiah, bukan berarti aku tidak pernah mendapatkannya sama sekali. Aku pernah mendapatkannya. Walau mungkin sebutannya bukan hadiah, tapi pemberian. Bagiku, apapun sebut...
Komentar
Posting Komentar