Langsung ke konten utama

Desember

 Bulan yang berat. Walau nyatanya bulan memang berat. Ada banyak kejadian menyebalkan. Kuliah, main futsal, belajar buat ujian, ujian, dan selebrasi selepas ujian.

Aku tidak mau merendah di sini. Jadi perihal kuliah akan kusimpan sendiri saja.

Main futsal. BEM kampus mengadakan perlombaan sebelum ujian. Salah satunya adalah pertandingan Futsal. Aku tidak mendaftar jadi pemain, tapi aku dimasukkan di daftar pemainnya. Salahku juga memang pernah bilang kalau aku akan ikut bermain.

Tempatnya ada di sekitar Alun-alun. Aku tidak tau tepatnya di mana, jadi aku hanya menunggu di sekitar Alun-alun. (Bohong, tempatnya ada di dalam mall, lantai lima. Aku tau itu. Tapi ketidakberanianku sudah membakar habis semuanya.)

Ada pembukaan di kampus, tapi aku tidak menghadirinya dan bilang akan langsung pergi ke lapangan. Aku menunggu di sekitar Alun-alun. Datang lebih cepat dan menunggu cukup lama.

Sampai waktunya tiba, aku masih menunggu. Dalam kepalaku kalau orang-orang kampus akan beramai-ramai datang dan aku dituntun masuk ke lapangan. Tapi nihil. Tidak ada keramaian selain suara bising latto-latto yang dimainkan anak-anak sekitar. Juga para anggota Satpol PP yang berfoto bersama di jalanan samping Masjid Raya. Tentu saja dengan pose mengepalkan satu tangan. Pose andalan para aparat ketika berfoto.

Aku akan mengaku kalau aku tidak punya teman di kampus. Kalau teman yang dimaksud adalah yang dalam dialognya membicarakan banyak hal, bukan hanya perihal kampus dan pelajaran. Aku pun sedikit sekali bicara. Aku sendirian. Sampai lewat waktu pertandingan pertama dimulai, aku masih di luar lapangan. Di luar area lapangan. Di luar mall tempat lapangan itu berada. Karena apa yang ada di kepala ternyata tidak terjadi di luar kepala.

Aku berdebat hebat dengan diri sendiri. Pulang atau memberanikan diri masuk mall dengan bekal informasi yang dipunya. Sudah kubilang kan kalau aku berbohong. Aku tau tempatnya. Aku punya informasi tempatnya. Aku pun sudah memikirkan hal terburuk yang akan terjadi sebelumnya. Adalah aku tidak sampai ke lapangan. Aku sudah berdamai dengan diri sendiri kalau tidak apa-apa tidak jadi bermain. Karena bagiku, dengan pergi keluar rumah pun sudah sebuah prestasi. Aku pun berhasil menyelesaikan lanjutan bacaan buku selagi menunggu. Jadi kalau pulang pun tidak apa-apa.

Aku akan bilang kalau aku adalah seorang penakut. Hal yang sepatutnya dilakukan oleh orang sepertiku adalah pulang saja. Tapi entah karena apa, aku merangsek masuk mall. Sendirian. Naik tangga berjalan. Lantai satu, dua, tiga, empat. Aku tidak pedulikan semua lantai itu. Hanya kulihat sekilas. Sampai di lantai lima, benar ada lapangan futsal di sana. Aku sampai, aku berhasil sampai. Mungkin hal biasa kalau dilihat dari kacamata umum. Tapi bagiku, itu mengejutkan.

Aku sudah lama tidak bermain futsal. Pandemi benar-benar mengubah keseharianku. Alhasil, aku bermain tidak dengan semangat penuh. Aku tidak merasakan emosi apa pun ketika bermain. Ketika tercipta gol atau kebobolan aku hanya mengangguk dan menggeleng. Aku pun tidak memberi banyak kontribusi bagi tim. Timnya kalah, tapi tidak ada perasaan kecewa seperti biasanya. Aku malah bangga dengan penampilanku selama tampil di lapangan. Keberhasilanku dalam menggagalkan kesempatan lawan untuk mencetak gol, sudah cukup membuatku puas.

Belajar buat ujian. Judul awalnya adalah begitu. Lagi-lagi aku pergi keluar rumah. Satu hal mengejutkan. Sendirian. Aku belajar di luar. Bandung Creative Hub. Dalam kepala, aku akan belajar di atas meja. Atau bisa berbincang dengan beberapa orang, bahkan sampai dapat teman baru. Tapi yang ada dalam kepala tidak selalu jadi nyata di luar kepala. Mejanya penuh, atau lebih tepatnya aku yang menyimpulkan kalau sudah penuh. Karena semua meja memang sudah ada penunggunya. Padahal aku bisa saja untuk minta berbagi meja. Tapi sekali lagi akan aku tulis di sini. Aku adalah seorang penakut.

Aku duduk di kursi depan perpustakaan. Aku baru sadar setelah sampai di sana kalau saat itu bertepatan dengan hari natal dan akhir pekan. Aku pun tidak tau kalau perpustakaan tutup di hari itu. Jadi aku hanya duduk di sana. Aku belajar di sana, tanpa meja.

Ujian. Sudah jelas. Menyebalkan. Tapi entah kenapa aku merasa kalau hasilnya akan memuaskan. Aku jadi merasa bersalah. Aku bukan orang yang cukup rajin, tapi malah diberi otak yang mampu berpikir dengan baik.

Selebrasi selepas ujian. Aku pergi menonton panggung. Acara hari jadi Bandung Creative Hub. Entah kenapa akhir-akhir ini aku terobsesi dengan bangunan itu. Aku akui memang bangunannya unik dan mengagumkan. Tapi kalau hanya itu alasannya orang pun sama kagumnya.

Kali ini, aku tidak ingin pergi sendirian. Melelahkan dan menyebalkan. Tiap kali bepergian sendirian, aku memang selalu berhasil mencapai tujuan sesuai rencana, main futsal, belajar, dan nonton panggung. Tapi saat sudah sampai di sana, aku masih saja merasa belum sampai kemana-mana. Mungkin karena tujuan sebenarnya yang ingin kukejar adalah mendapat teman baru. Sulit dan merepotkan.

Aku bagikan poster tentang acara ini, dua orang meresponnya. Satu orang hanya bertanya perihal informasi yang tidak aku ketahai, satu lagi bilang akan datang.

Aku tidak berharap banyak. Kembali lagi dalam kepala aku bilang kalau tidak apa untuk sendiri lagi. Karena tujuanku memang untuk menonton panggung. Bukan menonton panggung bersama. Sesuai dugaan, orang yang bilang akan datang, tidak jadi datang. Aku tidak mau bicara lebih banyak dari itu. Aku tidak mau blog ini jadi tempat mengumpat. Biar hanya dalam tulisan, tetap sama menyakitkannya dengan kata lisan.

Aku terhibur. Aku sempat terhibur. Sebelum akhirnya aku kembali pulang ke tempat yang sama.

Rumah sedang tidak baik-baik saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebebasan dan Batasan: Dialektika Etika dalam Masyarakat Modern Abstrak 

 . (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) ____ Esai ini membahas dialektika antara kebebasan dan batasan dalam masyarakat modern, dengan fokus pada bagaimana kebebasan yang awalnya dimaknai sebagai kemajuan, dapat berubah menjadi bentuk kebebasan yang liar jika tidak diimbangi dengan etika dan tanggung jawab. Fenomena yang dianalisis meliputi cara berpakaian, kebebasan berpendapat, serta perdebatan kesetaraan gender. Tulisan ini mengusulkan kerangka etis yang mempertahankan kebebasan namun tetap memelihara nilai protektif dari batasan sosial. Pendahuluan   Kebebasan sering dipandang sebagai salah satu pilar utama peradaban modern. Individu diberi ruang yang luas untuk mengekspresikan identitas, opini, dan pilihan hidupnya. Namun, kebebasan yang dilepaskan dari konteks etis dan sosial dapat kehilangan arah, melahirkan pa...

Review Buku: Getting To Yes

 Resensi buku non-fiksi: Getting To Yes Identitas Buku:  Getting To Yes: Trik Mencapai Kata Sepakat untuk Setiap Perbedaan Pendapat Oleh Roger Fisher, William Ury, dan Bruce Patton Penerjemah: Mila Hidajat Penerbit Gramedia Pustaka Utama Cetakan kelima (edisi ketiga): Maret 2020 Jumlah Halaman: 314 Pendahuluan: Secara umum, Getting To Yes menawarkan sebuah metode negosiasi yang dikenal sebagai Negosiasi Berprinsip. Seringkali perbedaan pendapat menjadikan dua pihak ingin saling mengalahkan satu sama lain, hanya berfokus pada apa yang mau dan tidak mau dilakukan oleh masing-masing pihak. Dengan Negosiasi Berprinsip perbedaan pendapat diharapkan dapat diselesaikan dengan kesepakatan yang menekankan pada keuntungan bersama bila memungkinkan, dan ketika kepentingan kedua pihak bertentangan, maka harus didasarkan pada standar yang adil dan terbebas dari keinginan masing-masing. Para penulis merupakan mereka yang tergabung dalam Harvard Negotiation Project sekaligus menjadi tempat d...

Dear Diary: Love Language

 Beberapa hari lalu, aku iseng melakukan love language test. Berikut adalah hasilnya: Pertanyaannya adalah, "Apa yang lebih berarti bagiku ketika...?" Receiving Gifts: atau menerima hadiah. Poin ini sedikit lebih unggul dibanding yang lain. Dalam penjelasan di web-nya pun dijelaskan kalau poin ini mungkin terdengar materialis, tapi dalam bahasa cinta, bukan materi yang dilihat. Melainkan pesan di baliknya. Dan aku mengharapkan adanya pesan itu. Iya, aku berharap. Aku tidak tau bagaimana love language bekerja. Tapi hasil ini sebagian besar memang berarti harapan. Aku jarang menerima hadiah. Ulang tahun pun tidak pernah dirayakan. Kalau pun ada yang merayakan, itu adalah inisiatif orang-orang di sekitarku saat itu. Dan saat itu terjadi, aku merasa kalau itu adalah salah satu momen berharga dalam hidup. Perihal hadiah, bukan berarti aku tidak pernah mendapatkannya sama sekali. Aku pernah mendapatkannya. Walau mungkin sebutannya bukan hadiah, tapi pemberian. Bagiku, apapun sebut...