Langsung ke konten utama

Dear Diary: Gramedia Hari Ini

 Aku baru tau kalau ternyata bertemu langsung dengan penulis yang bukunya kubaca akan semenyenangkan ini.

Hari ini di Gramedia. Aku kembali bepergian. Sendirian. Kalau bukan karena ada ajakan dari salah seorang teman, boleh jadi aku malah tidak pergi. Sebab ajakan itulah yang membuatku yakin untuk pergi.

Tujuan bepergian hari ini ada 2: mengunjungi "bazar" buku, dan menghadiri acara bincang buku bersama salah seorang penulis yang pernah kubaca bukunya: "Kita Pergi Hari Ini" oleh Ziggy Zesyazoeviennazabrizkie.

Aku pergi dengan bekal informasi seadanya. Aku dengan santai masuk begitu saja ke dalam gedung. Berkeliling kesana kemari, menyusuri tiap rak-rak buku, dan mengunjungi kasir untuk menyelesaikan pembayaran buku yang didapat. Sampai aku diberitahu kalau ternyata "bazar" buku itu bukan di dalam gedung.

Bahkan perihal acara temu penulis pun, aku baru tau kalau akan ada sesi tanda tangan buku langsung oleh penulis. Aku pergi dengan tangan kosong. Buku yang kubaca itu sedang tidak bersamaku. Alhasil aku beli buku baru saat itu juga.

Meski begitu, semuanya menyenangkan.

Tidak mudah untuk bepergian sendirian. Akan ada banyak hal tidak terduga yang kerap kali bisa terjadi. Buah dari keputusan-keputusan yang diputuskan begitu saja tanpa pikir panjang dan diolah lebih dulu.

Hari ini memang ditemani beberapa teman di tempat. Tapi tidak dengan jalan pulang. Jalan pulang benar-benar tidak terduga. Bukan soal hujan yang turun tiba-tiba. Tapi ada pada keputusan dan isi kepala.

Aku. Pulang. Hujan. Hujanan.

Sampai di rumah, kau tau apa yang orang rumah katakan? Yap. Mereka malah mengadu nasib.

"Itulah yang aku rasakan." katanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggugat Freud Lewat Bahasa: Sebuah Kritik Terhadap Kesalahan Istilah Ego

  (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Dalam sejarah psikologi modern, psikoanalisis menjadi salah satu teori paling berpengaruh, terutama melalui kontribusi Sigmund Freud. Salah satu konsep kunci dalam teorinya adalah pembagian struktur kepribadian menjadi tiga bagian: id, ego, dan superego. Namun, seiring berkembangnya pemahaman lintas bahasa dan budaya, muncul pertanyaan kritis: apakah istilah "ego" dalam kerangka Freud benar secara semantik dan konseptual? Dalam berbagai bahasa dan pemahaman masyarakat, "ego" identik dengan keangkuhan, dorongan diri yang tak terkendali, dan sifat egois. Sementara itu, Freud menggunakan istilah ini untuk menggambarkan fungsi pengatur dan penengah antara dorongan naluriah dan tuntutan sosial. Esai ini hendak menggugat pilihan istilah "ego" dalam teor...

Kebebasan dan Batasan: Dialektika Etika dalam Masyarakat Modern Abstrak 

 . (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) ____ Esai ini membahas dialektika antara kebebasan dan batasan dalam masyarakat modern, dengan fokus pada bagaimana kebebasan yang awalnya dimaknai sebagai kemajuan, dapat berubah menjadi bentuk kebebasan yang liar jika tidak diimbangi dengan etika dan tanggung jawab. Fenomena yang dianalisis meliputi cara berpakaian, kebebasan berpendapat, serta perdebatan kesetaraan gender. Tulisan ini mengusulkan kerangka etis yang mempertahankan kebebasan namun tetap memelihara nilai protektif dari batasan sosial. Pendahuluan   Kebebasan sering dipandang sebagai salah satu pilar utama peradaban modern. Individu diberi ruang yang luas untuk mengekspresikan identitas, opini, dan pilihan hidupnya. Namun, kebebasan yang dilepaskan dari konteks etis dan sosial dapat kehilangan arah, melahirkan pa...

Behavioristik dan Kolaborasi Ilmu: Menyatukan Pemahaman demi Keutuhan Psikologi

  (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Pendekatan behavioristik dalam psikologi kerap dianggap sempit karena fokusnya hanya pada perilaku yang tampak dan terukur. Namun sesungguhnya, jika dimaknai dengan lebih reflektif, behaviorisme dapat berkontribusi besar dalam memahami perilaku manusia. Bukan dengan mengklaim sebagai pendekatan paling lengkap, tetapi justru dengan mengakui batasnya dan membuka ruang kerja sama lintas bidang ilmu. Esai ini membahas bagaimana behavioristik, alih-alih hanya membentuk perilaku, bisa digunakan untuk memahami perilaku secara fungsional, dan bagaimana pentingnya kerja sama antardisiplin dalam menjelaskan kompleksitas manusia. Behaviorisme: Dari Membentuk ke Memahami Secara historis, behaviorisme berkembang dari semangat ilmiah untuk menjadikan psikologi sebagai ilmu objektif. Tok...