Langsung ke konten utama

Dear Diary: Mau ke mana?

 Tidak lama lagi, masa perkuliahan akan berakhir. Bagi banyak orang, itu adalah kabar baik, kabar yang menyenangkan dan gembira. Katanya sebagai bukti keberhasilan. Tapi bagiku adalah sebaliknya. Mungkin masih ada rasa senang, tapi tidak sebanyak rasa tegang, khawatir, takut, dan kebingungan.

Akhir tahun ini, kalau semuanya lancar, aku selesai kuliah. Aku ibarat sedang ada di depan pintu. Tangan sudah kutaruh di knopnya dan tinggal dibuka saja. Tapi dalam kepala, kalaupun aku berhasil membukanya dan berhasil melewatinya, bukan berarti semuanya selesai; aku bisa bernapas lega, atau bersenang-senang dan merasa bebas. Sebab ruang selanjutnya akan jauh lebih berat lagi. Aku menengadahkan kepala dan kulihat tulisan di atas pintu, ((Dewasa)).

Mendengar bahwa waktu kuliah sebentar lagi usai, Bapak jadi lebih aktif bertanya. "Mau kemana?" katanya.

Aku tidak menjawab. Aku tutup mulut rapat-rapat. Aku diam seribu bahasa. Kalaupun ada jawaban yang keluar, maka jawaban itu adalah, "Enggak tau."

Jawaban bohong. Jawaban palsu. Jawaban menipu. Aku sudah tau. Aku sudah membuat rencana. Aku sudah memikirkannya ribuan kali. Aku sudah punya tujuan. Tapi sebab terhalang dengan pertanyaan, "Bagaimana untuk bisa sampai ke sana?" Jadilah aku bungkam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggugat Freud Lewat Bahasa: Sebuah Kritik Terhadap Kesalahan Istilah Ego

  (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Dalam sejarah psikologi modern, psikoanalisis menjadi salah satu teori paling berpengaruh, terutama melalui kontribusi Sigmund Freud. Salah satu konsep kunci dalam teorinya adalah pembagian struktur kepribadian menjadi tiga bagian: id, ego, dan superego. Namun, seiring berkembangnya pemahaman lintas bahasa dan budaya, muncul pertanyaan kritis: apakah istilah "ego" dalam kerangka Freud benar secara semantik dan konseptual? Dalam berbagai bahasa dan pemahaman masyarakat, "ego" identik dengan keangkuhan, dorongan diri yang tak terkendali, dan sifat egois. Sementara itu, Freud menggunakan istilah ini untuk menggambarkan fungsi pengatur dan penengah antara dorongan naluriah dan tuntutan sosial. Esai ini hendak menggugat pilihan istilah "ego" dalam teor...

Menimbang Kebebasan dalam Bingkai Kemanusiaan dan Etika Islami

 (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk menbagikan apa yang ada dalam kepala, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Kebebasan telah menjadi salah satu isu sentral dalam wacana sosial modern. Ia seringkali diartikan sebagai hak untuk melakukan apa pun tanpa batas, selama tidak secara eksplisit melanggar hukum. Namun, ketika konsep kebebasan tidak dibarengi dengan rasa aman dan tanggung jawab, kebebasan itu sendiri justru berpotensi mencederai individu dan masyarakat. Dalam konteks ini, pandangan Islam tentang kebebasan bukan hanya menawarkan batasan, tetapi juga perlindungan, baik bagi individu maupun komunitas secara luas. Kebebasan sejati, dalam pandangan yang diuraikan esai ini, adalah kebebasan yang menjunjung tinggi kemanusiaan, menghormati sesama, dan dituntun oleh nilai-nilai moral dan etika. Kebebasan dan Rasa Aman: Sebuah Keterkaitan yang Tak Terpisahkan Kebebasan sejati adalah ketika seseorang merasa aman dalam...

Kebebasan dan Batasan: Dialektika Etika dalam Masyarakat Modern Abstrak 

 . (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) ____ Esai ini membahas dialektika antara kebebasan dan batasan dalam masyarakat modern, dengan fokus pada bagaimana kebebasan yang awalnya dimaknai sebagai kemajuan, dapat berubah menjadi bentuk kebebasan yang liar jika tidak diimbangi dengan etika dan tanggung jawab. Fenomena yang dianalisis meliputi cara berpakaian, kebebasan berpendapat, serta perdebatan kesetaraan gender. Tulisan ini mengusulkan kerangka etis yang mempertahankan kebebasan namun tetap memelihara nilai protektif dari batasan sosial. Pendahuluan   Kebebasan sering dipandang sebagai salah satu pilar utama peradaban modern. Individu diberi ruang yang luas untuk mengekspresikan identitas, opini, dan pilihan hidupnya. Namun, kebebasan yang dilepaskan dari konteks etis dan sosial dapat kehilangan arah, melahirkan pa...