Langsung ke konten utama

Aku Adalah Seorang Kunci

 Kunci adalah arti namaku. Secara bahasa, kunci berarti alat untuk membuka sesuatu. Tapi sekarang kebanyakan manusia justru menggunakan-nya untuk menjadikan sesuatu lebih rapat lagi dari sekadar menutup. Aku sudah berusaha untuk berlaku seperti namaku. Berlaku untuk bisa lebih membuka diri. Tapi kebanyakan manusia justru membuatku jadi makin tertutup.

Memang aku tidak bisa meminta orang lain untuk mengerti bagaimana keadaanku. Tapi aku juga tidak bisa terus memaksakan diri untuk selalu mengerti semua keadaan masing-masing manusia. Aku tidak bisa membuat orang lain untuk berubah mengikuti apa yang aku mau. Dan aku juga tidak bisa terus berubah untuk mengikuti apa kata dunia.

Menjadi satu-satunya orang berbeda di tengah orang-orang serupa akan membuat orang itu memiliki dua kemungkinan. Diperlakukan istimewa atau justru diperlakukan seenaknya. Dan aku berada di kemungkinan kedua.

Katanya manusia adalah makhluk sosial. Tapi dialog harianku hanya berisi ucapan salam dan sahut-sahutan kecil. Dan malah didominasi oleh kata hati. Banyak bicara tidak didengar, diam malah dianggap tidak ada. Selayaknya orang bisu dan tuli, aku habiskan keseharianku dengan sedikit bicara dan sedikit mendengarkan.

Diam bukan berarti takut. Bertahan bukan berarti mengalah. Mengalah bukan berarti akan kalah.

Sebenarnya aku ingin lebih sedikit diam dan perlahan mulai banyak bicara. Memang benar kalau, "Berkatalah yang baik atau diam."

Aku hanya takut dianggap tidak pandai berkata baik sebab terlalu banyak diam. Aku ingin kembali menciptakan percakapan yang sudah lama tidak terdengar lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku: Getting To Yes

 Resensi buku non-fiksi: Getting To Yes Identitas Buku:  Getting To Yes: Trik Mencapai Kata Sepakat untuk Setiap Perbedaan Pendapat Oleh Roger Fisher, William Ury, dan Bruce Patton Penerjemah: Mila Hidajat Penerbit Gramedia Pustaka Utama Cetakan kelima (edisi ketiga): Maret 2020 Jumlah Halaman: 314 Pendahuluan: Secara umum, Getting To Yes menawarkan sebuah metode negosiasi yang dikenal sebagai Negosiasi Berprinsip. Seringkali perbedaan pendapat menjadikan dua pihak ingin saling mengalahkan satu sama lain, hanya berfokus pada apa yang mau dan tidak mau dilakukan oleh masing-masing pihak. Dengan Negosiasi Berprinsip perbedaan pendapat diharapkan dapat diselesaikan dengan kesepakatan yang menekankan pada keuntungan bersama bila memungkinkan, dan ketika kepentingan kedua pihak bertentangan, maka harus didasarkan pada standar yang adil dan terbebas dari keinginan masing-masing. Para penulis merupakan mereka yang tergabung dalam Harvard Negotiation Project sekaligus menjadi tempat d...

Menggugat Freud Lewat Bahasa: Sebuah Kritik Terhadap Kesalahan Istilah Ego

  (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) Pendahuluan Dalam sejarah psikologi modern, psikoanalisis menjadi salah satu teori paling berpengaruh, terutama melalui kontribusi Sigmund Freud. Salah satu konsep kunci dalam teorinya adalah pembagian struktur kepribadian menjadi tiga bagian: id, ego, dan superego. Namun, seiring berkembangnya pemahaman lintas bahasa dan budaya, muncul pertanyaan kritis: apakah istilah "ego" dalam kerangka Freud benar secara semantik dan konseptual? Dalam berbagai bahasa dan pemahaman masyarakat, "ego" identik dengan keangkuhan, dorongan diri yang tak terkendali, dan sifat egois. Sementara itu, Freud menggunakan istilah ini untuk menggambarkan fungsi pengatur dan penengah antara dorongan naluriah dan tuntutan sosial. Esai ini hendak menggugat pilihan istilah "ego" dalam teor...

Kebebasan dan Batasan: Dialektika Etika dalam Masyarakat Modern Abstrak 

 . (Ditulis oleh ChatGPT usai melakukan diskusi panjang. Sebagai upaya untuk membagikan apa yang ada dalam kepala, sekaligus menyuarakan keresahan, dan aku tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya) ____ Esai ini membahas dialektika antara kebebasan dan batasan dalam masyarakat modern, dengan fokus pada bagaimana kebebasan yang awalnya dimaknai sebagai kemajuan, dapat berubah menjadi bentuk kebebasan yang liar jika tidak diimbangi dengan etika dan tanggung jawab. Fenomena yang dianalisis meliputi cara berpakaian, kebebasan berpendapat, serta perdebatan kesetaraan gender. Tulisan ini mengusulkan kerangka etis yang mempertahankan kebebasan namun tetap memelihara nilai protektif dari batasan sosial. Pendahuluan   Kebebasan sering dipandang sebagai salah satu pilar utama peradaban modern. Individu diberi ruang yang luas untuk mengekspresikan identitas, opini, dan pilihan hidupnya. Namun, kebebasan yang dilepaskan dari konteks etis dan sosial dapat kehilangan arah, melahirkan pa...